{"id":321,"date":"2017-12-14T08:54:28","date_gmt":"2017-12-14T01:54:28","guid":{"rendered":"http:\/\/blog.virajayariauputra.com\/?p=321"},"modified":"2018-12-18T11:18:41","modified_gmt":"2018-12-18T04:18:41","slug":"bahan-dasar-aspal-minyak-bumi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/virajayariauputra.com\/blog\/?p=321","title":{"rendered":"Apa Saja Bahan Dasar Aspal Minyak Bumi ?"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Aspal adalah campuran yang terdiri dari bitumen dan mineral. Bitumen adalah bahan yang berwarna coklat hingga hitam, keras hingga cair mempunyai sifat baik larut dalam Cs2 atau CCL4 dengan sempurna dan mempunyai sifat lunak dan tidak larut dalam air, ter adalah bahan cair berwarna hitam tidak larut dalam air, larut sempurna dalam Cs2 atau CCL4, mengandung zat-zat organik yang terdiri dari gugusan aromat dan mempunyai sifat kekal.<br \/>\nBitumen secara kimia terdiri aromat, Naphten dan alkan sebagai komponen terpenting dan secara kimia fisika merupakan campuran colloid dimana butir-butir yang merupakan komponen yang padat berada dalam fase cairan yang disebut Malten. Asphlatene terdiri campuran gugusan aromat Naphten dan Alkan dengan berat molekul yang lebih tinggi, sedangkan Malten terdiri campuran gugusan aromat. Napthen dan alkali dengan berat molekul yang lebih rendah.<br \/>\nJenis-Jenis Aspal<br \/>\nAspal yang digunakan untuk bahan perkerasan jalan terdiri dari aspal alam dan aspal buatan.<br \/>\n<strong>1. Aspal alam<\/strong><br \/>\na. Aspal alam dapat dibedakan atas :<br \/>\n\u00b7 Aspal gunung contoh : aspal dari pulau Buton<br \/>\n\u00b7 Aspal danau contoh : aspal dari Bermudus Trinidat<br \/>\nb. Berdasarkan kemurniannya sebagai berikut :<br \/>\n\u00b7 Murni dan hampir murni<br \/>\n\u00b7 Tercampur dengan mineral di Pylau Buton, Aspal gunung contoh : aspal dari pulau Buton, Trinidat, Prancis dan Swiss.<br \/>\nc. Berhubung aspal alam tidak mempunyai mutu tertentu penggunaan aspal tersebut dapat dievaluasi dengan baik.<br \/>\n<strong>2. Aspal buatan<\/strong><br \/>\nJenis ter dibuat dari proses pengolahan minyak bumi. Jadi bahan baku yang dibuat untuk aspal pada umumnya adalah minyak bumi yang banyak mengandung aspal.<br \/>\nTer merupakan hasil penyulingan batu bara tidak umum digunakan untuk perkerasan jalan karena lebih cepat mengeras, peka terhadap temperature dan beracun.<br \/>\nAspal minyak bumi dengan bahan dasar dapat dibedakan atas :<br \/>\na. Aspal Keras<br \/>\nAspal keras \/ panas adalah aspal yang digunakan dalam keadaan cair dan panas, aspal ini berbentuk padat pada keadaan penyimpanan temperatur ruang 25oC \u2013 30oC. Aspal semen terdiri dari beberapa jenis tergantung dari proses pembuatannya dan jenis minyak bumi asalnya. Pengelompokan aspal semen dapat dilakukan berdasarkan nilai penetrasi tingkat kekerasan pada temperatur 25oC ataupun berdasarkan nilai Visiositasnya.<br \/>\nDi Indonesia aspal semen biasanya dibedakan berdasarkan nilai penetrasi.<br \/>\n\u00b7 AC per 40\/50 \u2192 yaitu AC dengan penetrasi antara 40 \u2013 50<br \/>\n\u00b7 AC per 60\/70 \u2192 yaitu AC dengan penetrasi antara 60 \u2013 70<br \/>\n\u00b7 AC per 84\/100 \u2192 yaitu AC dengan penetrasi antara 85 \u2013 100<br \/>\n\u00b7 AC per 120\/150 \u2192 yaitu AC dengan penetrasi antara 120 \u2013 150<br \/>\n\u00b7 AC per 200\/300 \u2192 yaitu AC dengan penetrasi antara 200 \u2013 300<br \/>\nAspal semen dengan penetrasi rendah digunakan di daerah bercuaca panas sedangkan aspal semen dengan penetrasi tinggi digunakan untuk daerah bercuaca dengan lalu lintas ber volume rendah.<br \/>\nDi Indonesia pada umumnya dipergunakan aspal semen dengan penetrasi 60\/70 dan 80\/100<br \/>\nb. Aspal Cair<br \/>\nAspal cair adalah campuran antara aspal semen dengan bahan pencair dari hasil penyulingan dengan minyak bumi, dengan demikian cut back aspal berbentuk cair dalam temperatur ruang. Berdasarkan bahan pencairnya dan kemudahan menguap bahan pelarutnya, aspal cair dapat dibedakan atas :<br \/>\n\u00b7 Rapid Curing Cut Back (RC)<br \/>\nMerupakan aspal semen yang dilarutkan dengan premium atau bensin.<br \/>\nRC merupakan Cut Back aspal yang paling cepat menguap.<br \/>\n\u00b7 Medium Curing Cut Back (MC)<br \/>\nMerupakan aspal semen yang dilarutkan dengan bahan pencair yang lebih kental seperti minyak tanah.<br \/>\n\u00b7 Slow curing Cut Back (SC)<br \/>\nMerupakan aspal semen yang dilarutkan dengan bahan yang lebih kental seperti solar, aspal jenis ini merupakan cut back aspal yang paling lama menguap.<br \/>\nBerdasarkan jenis pelarut<br \/>\n\u00b7 RC dari Ac + Premium<br \/>\n\u00b7 MC dari Ac + Bensin<br \/>\n\u00b7 SC dari + Solar<br \/>\n<strong>3. Aspal Emulsi<\/strong><br \/>\nAspal emulsi adalah suatu campuran aspal dengan air dan bahan pengemulsi berdasarkan muatan listrik yang dikandungnya aspal emulsi.<br \/>\nDalam aspal emulsi Kationik dan anionic, kedua golongan tersebut masih dipecahkan lagi menurut sifat labil sebagai berikut :<br \/>\nKationik<br \/>\nDisebut juga aspal elmulsi alkali, merupakan aspal emulsi yang bermuatan arus listrik negatif. Berdasarkan sifat labil dibedakan atas :<br \/>\n\u2013 (ML), labil Memisah dengan cepat, tidak dapat dipergunakan untuk campuran sebelum dihampar.<br \/>\n\u2013 (MS) Agak Stabil, mempunyai kestabilan sehingga dapatdipergunakan untuk campuran dengan jenis-jenis batuan dan gradasi tertentu sebelum dihampar.<br \/>\n\u2013 (ML) Stabil, dapat dicampurkan dengan semua jenis batuan yang bisa digunakan segala macam gradasi termasuk gradasi filler semen portland.<br \/>\nKatonik<br \/>\nMerupakan aspal emulsi yang bermuatan positif berdasarkan sifat bekerja dapat dibedakan atas :<br \/>\n\u2013 (MCK) Bekerja Cepat<br \/>\nCepat bereaksi dengan batuan pada terjadinya kontak dengan permukaan jalan maupun batuan sehingga tidak dapat batuan sebelum dihampar.<br \/>\n\u2013 (MSK) Bekerja Kurang Cepat<br \/>\nReaksi kurang cepat dengan batuan menyebabkan jenis ini dapat digunakan untuk pekerja, pencampuran dengan bantuan bergradasi kasar dan bersih.<br \/>\n\u2013 (MLK) Bekerja Lamban<br \/>\nKarena reaksi lamban sekali maka jenis ini dapat dipergunakan untuk menampung dengan batuan bergradasi halus mis : glury dan tidak bersih.<br \/>\nNonionik<br \/>\nMerupakan aspal emulsi yang tidak mengalami ionisasi berarti tidak menghantarkan listrik. Selain pengelompokan menurut apa yang disebut di atas aspal emulsi dibagi juga menurut viscositasnya. Berdasarkan geologi maka pembagian aspal emulsi akan menyangkut kadar bitumen atau kadar air dan kandungannya karena kadar air mempengaruhi viscositas.<br \/>\n\u2013 (RS) Rapid Setting aspal yang mengandung sedikit bahan pengemulsi sehingga pengikatnya yang terjadi cepat.<br \/>\n\u2013 (MS) Medium Setiing<br \/>\n\u2013 (SS) Slow Setting, jenis aspal emulsi yang paling lambat menguap.<br \/>\nAspal yang digunakan pada konstruksi perkerasan jalan berfungsi sebagai berikut :<br \/>\n1. Bahan pengikat, memberikan ikatan yang kuat antara aspal dan aggregat dan antara aspal itu sendiri.<br \/>\n2. Bahan Pengisi, mengisi rongga antar butir-bitir aggregat dan pori yang ada dari aggregat itu sendiri.<br \/>\n3. Menutupi permukaan jalan hingga tidak berdebu<br \/>\n4. Menambah stabilitas atau memberikan semacam bantalan antar batuan.<br \/>\n5. Membuat permukaan jalan kedap air.<br \/>\nBerdasarkan fungsi aspal tersebut maka aspal harus mempunyai daya tahan terhadap cuaca, mempunyai adhesi dan kohesi yang baik dan memberikan sifat elastis yang baik.<br \/>\nSpesifikasi Aspal<br \/>\n<strong>a. Syarat Umum Aspal Keras<\/strong><br \/>\n1. Aspal keras harus berasal dari hasil minyak bumi<br \/>\n2. Aspal keras harus mempunyai sifat sejenis, bebas air dan tidak berbusa jika dipanaskan sampai 175oC.<br \/>\n3. Kadar paraffin dalam aspal tidak melebihi 2 %<br \/>\n<strong>b. Syarat-Syarat Umum Aspal Cair<\/strong><br \/>\nSpesifikasi meliputi tiga mutu aspal cair RC \u2013 70, RC \u2013 250 fan RC \u2013 800<br \/>\n1. Aspal cair harus berasal dari hasil minyak bumi<br \/>\n2. Aspal harus mempunyai sifat sejenis, bebas air dan tidak berbusa jika di panaskan<br \/>\n3. Jika dipakai menunjukkan pemisahan atau penggumpalan<br \/>\n4. Kadar paraffin dalam aspal tidak melebihi 2 %.<\/p><div class=\"e3ce4ccf4f45958f8a0cd529d5aec3df\" data-index=\"1\" style=\"float: none; margin:10px 0 10px 0; text-align:center;\">\n<script async src=\"https:\/\/pagead2.googlesyndication.com\/pagead\/js\/adsbygoogle.js\"><\/script>\r\n<ins class=\"adsbygoogle\"\r\n     style=\"display:block; text-align:center;\"\r\n     data-ad-layout=\"in-article\"\r\n     data-ad-format=\"fluid\"\r\n     data-ad-client=\"ca-pub-6841353207431970\"\r\n     data-ad-slot=\"2647761794\"><\/ins>\r\n<script>\r\n     (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});\r\n<\/script>\n<\/div>\n\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekian postingan kami kali ini, apabila ada pertanyaan silahkan pertanyakan di kolom komentar, terima kasih.<\/p>\n\n<div style=\"font-size: 0px; height: 0px; line-height: 0px; margin: 0; padding: 0; clear: both;\"><\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aspal adalah campuran yang terdiri dari bitumen dan mineral. Bitumen adalah bahan yang berwarna coklat hingga hitam, keras hingga cair<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":322,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[10],"tags":[11,5,22],"class_list":["post-321","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-bahan-baku","tag-bahan-baku","tag-kontraktor","tag-teknik-konstruksi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/virajayariauputra.com\/blog\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/321","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/virajayariauputra.com\/blog\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/virajayariauputra.com\/blog\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/virajayariauputra.com\/blog\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/virajayariauputra.com\/blog\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=321"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/virajayariauputra.com\/blog\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/321\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":595,"href":"https:\/\/virajayariauputra.com\/blog\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/321\/revisions\/595"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/virajayariauputra.com\/blog\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/322"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/virajayariauputra.com\/blog\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=321"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/virajayariauputra.com\/blog\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=321"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/virajayariauputra.com\/blog\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=321"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}